Media Dinamika Global.id.-- Bima telah lama diakui sebagai lumbung para qori dan qoriah terbaik yang berprestasi, baik di kancah nasional maupun internasional. Fenomena ini tak lepas dari kuatnya akar keislaman yang menancap di bumi Mbojo. Berbagai kompetisi dan haflah Al-Qur'an yang rutin digelar semakin mengukuhkan posisi Bima sebagai gudangnya talenta tilawah yang tak diragukan lagi.
Menariknya, di banyak perantauan, saat seseorang mengaku berasal dari Bima Dompu, pertanyaan yang muncul berikutnya seringkali bukan lagi soal letak geografis atau destinasi wisata. Melainkan, kesan yang seragam: "Oh, Bima... yang orang-orangnya pada bagus ngaji-nya itu ya?"
Kesan mendalam ini bukan muncul begitu saja. Ia terukir dari perjalanan panjang, dari tradisi yang begitu hidup dan menyatu dalam masyarakat. Dari riuhnya kegiatan keagamaan di masjid-masjid, lantunan ayat suci anak-anak selepas magrib, hingga gema tilawah yang memukau di panggung nasional dan internasional.
Bima Dompu memang istimewa, dikenal sebagai tanah yang melahirkan qori dan qoriah dengan karakter suara yang kuat, jernih, dan penuh penghayatan. Bagi Dou Mbojo, membaca Al-Qur’an bukan sekadar teknik, tetapi juga soal adab, rasa, dan tanggung jawab besar dalam menjaga kalam Ilahi.
Maka tak heran, tilawah dari Bima seringkali terasa begitu berbeda. Ada ketegasan, ada kelembutan, dan ada kedalaman makna yang tersirat di setiap ayat yang dilantunkan.
Identitas luhur ini terus terjaga dan diperkuat oleh para qori dan qoriah yang membawa harum nama Bima ke berbagai penjuru. Sebut saja Ustad Syamsuri Firdaus, qori kebanggaan Bima yang konsisten menorehkan prestasi dunia, menjadi simbol kualitas tilawah dari tanah Mbojo.
Ada juga Ustad Heri Kiswanto, Ust Jurmalin, Ust Imranul Karim, Ust Ulyl Amri Minkum dan qori cilik Zian Fahrezi yang mengharumkan nama Bima di berbagai ajang MTQ nasional dan internasional. Tak ketinggalan, Ustadzah Khairunnisa, qoriah asal Bima yang menorehkan prestasi nasional dan membuktikan bahwa perempuan Mbojo juga berdiri kokoh dalam tradisi tilawah.
Namun, mereka bukanlah satu-satunya. Mereka adalah representasi nyata dari tradisi panjang yang telah mengakar kuat di masyarakat Bima Dompu tradisi yang tak henti melahirkan suara-suara emas dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, bagi banyak orang di luar sana, Bima bukan sekadar nama daerah. Ia adalah rumah bagi lantunan Al-Qur’an yang indah, tanah yang dikenal karena suara merdu, adab yang luhur, dan kecintaan mendalam pada ayat suci. Dan identitas inilah yang patut terus dijaga, dirawat, dan dibanggakan bersama.
Semoga Allah SWT menganugerahkan lebih banyak lagi generasi Qur’ani dari Tanah Bima. Generasi yang berilmu, berakhlak mulia, menjaga nilai agama, adat dan budaya, serta mampu membawa Bima menuju masa depan yang lebih gemilang. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.