Irigasi Miliaran di Dompu Ambruk Sebelum Setahun, Proyek Diduga Asal Jadi, BWS NTB I Sebut Hujan Ekstrem Jadi Penyebab
![]() |
| Proyek saluran irigasi Sori Na’a di Desa Nanga Kara ambruk diduga asal jadi, (Ist/Surya) |
Dompu, Media Dinamika Global – Proyek saluran irigasi Sori Na’a di Desa Nanga Kara, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini menjadi sorotan tajam publik. Belum genap setahun dimanfaatkan masyarakat, bangunan yang menelan anggaran miliaran rupiah itu dilaporkan ambruk dan mengalami kerusakan parah.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Struktur saluran sepanjang kurang lebih 70 meter runtuh dan nyaris tak lagi berfungsi. Batu-batu berserakan di badan saluran, dinding penahan terkelupas, sementara konstruksi terlihat terkikis diterjang aliran air.
Ironisnya, proyek yang dikerjakan pada tahun 2025 oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I Mataram itu baru seumur jagung. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat terkait kualitas pengerjaan proyek yang dibiayai dari uang rakyat.
“Ini bukan bangunan tua. Baru beberapa bulan sudah roboh. Kalau kualitasnya bagus, masa iya langsung hancur begini?” ujar seorang warga enggan menyebut namannya dengan nada kecewa. (19/5)
Warga menduga proyek tersebut dikerjakan asal jadi tanpa memperhatikan mutu konstruksi. Dugaan itu semakin menguat setelah masyarakat melihat kondisi material bangunan yang dinilai rapuh dan mudah tergerus.
Bahkan, sejumlah warga menyebut campuran material diduga tidak sesuai standar konstruksi. Mereka menilai kualitas semen dan material pasangan batu sangat lemah sehingga tidak mampu bertahan menghadapi debit air.
“Kalau benar miliaran anggarannya, hasilnya jangan seperti bangunan sementara. Petani yang paling dirugikan karena saluran ini kebutuhan utama sawah,” tegas warga lainnya.
Kemarahan publik pun mulai mengarah pada lemahnya pengawasan proyek. Sebab proyek strategis yang seharusnya menopang kebutuhan pertanian masyarakat justru berubah menjadi bangunan rusak dalam waktu singkat.
Desakan agar aparat penegak hukum turun tangan mulai bermunculan. Warga meminta dilakukan audit teknis menyeluruh terhadap kualitas pekerjaan hingga penggunaan anggaran proyek tersebut.
Masyarakat khawatir ada indikasi kelalaian serius, bahkan dugaan permainan dalam pelaksanaan proyek yang kini justru meninggalkan kerugian bagi petani.
Menanggapi sorotan tersebut, Humas Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I Mataram menyatakan kerusakan terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut pada 16 Mei 2026.
Menurut pihak BWS, hujan deras berdurasi lama memicu gerusan dan longsoran dari tebing di sekitar lokasi hingga material longsor masuk ke badan saluran dan menyebabkan kerusakan sepanjang kurang lebih 70 meter.
“Kerusakan dilaporkan oleh juru pengairan Pengamat Pekat. Lokasi saluran memang berada di jenis tanah porus berpasir yang rawan longsor dan erosi,” jelas Humas BWS NTB I Mataram.
Pihak BWS juga mengaku telah melakukan penanganan cepat dengan memobilisasi alat berat excavator dan tenaga teknis ke lokasi untuk memperbaiki saluran yang rusak.
“Hari ini sudah dilakukan mobilisasi alat excavator ke lokasi saluran yang rusak dan akan ditangani dengan pengawasan juru pengairan,” katanya.
Selain itu, BWS menegaskan proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan hingga Desember 2026 sehingga tanggung jawab perbaikan masih berada di pihak kontraktor pelaksana, yakni PT NK.
Redaksi |










