Cerita Ibu Emi Suriani Yang Ngajar Tanpa Jam
Bima, Media Dinamika Global.id.-- Namaku Bu Emi. Sudah 30 tahun aku jadi guru. Diangkat 1 Maret 1992. Ditambah 7 tahun terakhir aku dipercaya jadi kepala sekolah di kampungku sendiri.
Hari Senin kemarin, aku lagi di acara Konferensi PGRI Kecamatan Raba. Tiba-tiba HP bunyi. Ibu Ka… nelpon: “Bu Emi datang ke dinas, ambil SK.”
“SK apa, Bu?” tanyaku.
“SK pindah,” jawabnya pelan.
Dadaku langsung sesak. Kenapa ada SK pindah lagi? Padahal SK pertama sudah kuterima: mutasi dari kepala sekolah turun jadi guru PJOK. Dan hari Senin kemarin, aku baru terima SK kedua: pindah ke sekolah lain, tetap jadi guru PJOK.
Selasa paginya, aku pamit ke sekolah lama. Mau lapor diri ke sekolah baru. Tapi teman-teman guru dan kepsek nggak tega. “Jangan pergi sendiri, Bu. Kami antar.” Akhirnya kami berangkat rombongan, naik motor beriringan. Guru-guru yang 7 tahun sama-sama bangun sekolah itu, nganter kepseknya yang sekarang turun jabatan.
Sampai di sekolah baru, kami langsung temui kepsek dan guru-guru. Aku salaman satu-satu. Sampai ke satu guru, guru PJOK PNS di sana. Tangannya dingin, matanya menghindar. Aku paham. Dia takut aku datang untuk menggantikan posisinya.
Padahal sebelum ke sana, aku sudah telpon kepseknya. “Berapa guru PJOK di sini, Pak?”
“Ada 3 orang, Bu. PNS dan paruh waktu.”
“Yang sertifikasi berapa?”
“Cuma satu, Bu. Yang PNS itu. Karena di sini cuma 9 rombel. Dia yang pegang 24 jam.”
Waktu tatap muka, kepseknya bilang terus terang: “Saya tidak berani terima Ibu di sini. Sudah ada guru PJOK PNS. Takutnya nanti jadi masalah.” Bahkan beliau WA aku dengan kalimat yang sama.
Hari itu juga aku ke Dikpora, klarifikasi ke K…Jawabannya: “Nanti diatur kembali. Sabar, pasti ada jam mengajar.” Hatiku belum tenang. Aku lanjut ke B… Cerita semua dari awal.
Jawaban Kepala B… Datang saja dulu ke sekolah itu sesuai SK . Nanti kita bicarakan lagi soal jam mengajar dengan dinas.”
Aku pulang dengan dada kosong.
Aku ini guru senior, Bu, Pak. Golongan 4B. 30 tahun mengabdi, 7 tahun memimpin. Aku terima diturunkan dari kepala sekolah jadi guru lagi. Ikhlas. Tapi aku juga manusia. Aku guru PJOK yang butuh 24 jam mengajar untuk bisa cair sertifikasi.
Sertifikasi itu bukan untuk foya-foya. Itu untuk bayar kuliah anakku yang tahun ini baru masuk. Itu untuk beli bolpoin buku beli bola, untuk anak-anak tetap bisa olahraga. Itu hak kami setelah puluhan tahun mengabdi.
Sekarang aku digantung. SK ada, sekolah tujuan ada, tapi jam mengajar tidak ada. Ditolak halus karena sudah ada yang punya. Mau lapor ke mana lagi hati yang patah ini?
Aku tidak minta dikasihani. Aku cuma minta keadilan. Tolong, jangan buat guru tua seperti kami habis tenaga untuk urus administrasi, bukan untuk mendidik.
Kalau hari ini aku harus mulai dari nol lagi, aku siap. Tapi beri aku ruang untuk mengabdi. 30 tahun bukan waktu yang sebentar untuk dibuang begitu saja.(Redaksi Sekjend MDG)












