Senin, 09 Februari 2026
Gerak Cepat Unit Reskrim Polsek Menggala Bersama Tekab 308 Berhasil Bekuk Pelaku Curanmor.
Babinsa Lanta Barat Koramil 1608-03/Sape Gelar Patroli Siskamling, Antisipasi Gangguan Kamtibmas
Lambu.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id — Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Babinsa Desa Lanta Barat, Sertu Sahlan, bersama satu orang anggota Koramil 1608-03/Sape melaksanakan kegiatan Patroli Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) pada Senin malam, 9 Februari 2026.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 Wita tersebut bertujuan untuk memantau situasi wilayah serta mengantisipasi perkembangan kondisi keamanan di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.
Patroli Siskamling ini melibatkan berbagai unsur, di antaranya dua orang anggota Koramil, tiga orang aparat desa, enam orang masyarakat, serta tokoh pemuda dan tokoh agama setempat. Kehadiran lintas unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas keamanan lingkungan.
Adapun sasaran patroli meliputi pemukiman warga dan sejumlah tempat tongkrongan anak muda yang dinilai rawan terjadinya gangguan ketertiban.
Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 20.00 Wita dengan keberangkatan anggota Koramil 1608-03/Sape menuju Desa Lanta Barat, Kecamatan Lambu. Selanjutnya, pada pukul 20.15 Wita, tim patroli tiba di lokasi dan langsung melakukan pemantauan situasi wilayah.
Pada pukul 20.30 Wita, Babinsa memberikan imbauan kepada warga agar menghindari kegiatan negatif, khususnya yang dipicu oleh konsumsi minuman keras. Warga juga diingatkan untuk menjauhi narkoba dan barang terlarang lainnya karena dapat berdampak buruk bagi diri sendiri maupun keluarga. Selain itu, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap kondisi cuaca serta potensi bahaya seperti pohon tumbang saat beraktivitas di luar rumah.
Patroli kemudian dilanjutkan dengan pemantauan wilayah desa binaan hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 21.20 Wita. Kegiatan Patroli Siskamling tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya aparat kewilayahan bersama masyarakat dalam menciptakan rasa aman serta mencegah potensi gangguan keamanan di lingkungan desa.
(Team.MDG.03)
Dansat Brimob dan Karo Ops Polda Riau Tinjau Langsung Pembangunan Jembatan Darurat
KAMPAR — Satuan Brimob Polda Riau mengerahkan Satgas Darurat untuk membangun jembatan di Dusun I Desa Lubuk Agung, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar.
Pembangunan jembatan darurat ini dilakukan untuk memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga akses pendidikan dan aktivitas sosial masyarakat pedesaan.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin (9/2/2026) sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai, dipimpin langsung oleh Danteam Satgas Ipda Anggiat TP Sihombing bersama personel gabungan Polri. Total 20 personel diterjunkan, terdiri dari unsur Brimob, Sabhara, dan Polairud.
Pembangunan jembatan darurat ini merupakan tindak lanjut dari perintah Kapolri dan Kapolda Riau terkait pembentukan Satgas Darurat Pembangunan Jembatan, sebagai upaya menjamin keselamatan masyarakat, keberlangsungan pendidikan anak-anak desa, serta penguatan social inclusion di wilayah terpencil.
Sejak pagi hari, personel Satgas melaksanakan apel dan pengecekan kekuatan, kemudian langsung melanjutkan pengerjaan jembatan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif tanpa kendala berarti.
Sekitar pukul 14.00 WIB, lokasi pembangunan jembatan dikunjungi langsung oleh Karo Ops Polda Riau Kombes Pol Ino Harianto,SIK.,MM, Dansat Brimob Kombes Pol I Ketut Gede Adi Wibawa, SIK., dan Kabid TIK Polda Riau Kombes Pol Andi Yul Lapawesean Tenri Guling,SH.,SIK.,MH, untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana serta memberikan dukungan moril kepada personel di lapangan.
Dansat Brimob Polda Riau Kombes Pol I Ketut Gede Adi Wibawa menegaskan bahwa kehadiran Brimob bukan hanya dalam konteks keamanan, tetapi juga solusi nyata bagi masyarakat.
“Pembangunan jembatan darurat ini adalah bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat", ujar Kombes Ketut.
Menurut Dansat Brimob Polda Riau ini, Polri tidak hanya hadir saat situasi darurat keamanan, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan akses yang aman untuk bersekolah, beraktivitas, dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Ia menambahkan, Satgas Darurat akan terus bekerja maksimal hingga jembatan dapat difungsikan dengan aman.
“Kami berkomitmen memastikan pekerjaan ini selesai dengan baik dan memberikan manfaat langsung bagi warga Desa Lubuk Agung. Ini sejalan dengan perintah pimpinan dan semangat Polri Presisi yang humanis dan responsif,” pungkasnya.
Satgas Darurat Jembatan Polda Riau memastikan kegiatan serupa akan terus dilakukan di wilayah lain yang membutuhkan perhatian darurat.
Heboh! Kasat Narkoba Polres Bima Kota Resmi Dipecat, BB 488,496 Gram Terkuak
Mataram, Media Dinamika Global.Id.— Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menegaskan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika secara menyeluruh dan tanpa pandang bulu. Penegasan tersebut ditunjukkan melalui penindakan tegas terhadap oknum Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Bima Kota yang terlibat dalam kasus penyalahgunaan narkotika.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin (9/2/2026), Polda NTB menyampaikan bahwa penanganan kasus tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga integritas institusi serta memperkuat kepercayaan publik terhadap Polri dalam perang melawan narkoba.
Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid, S.I.K., M.M. mengatakan, kasus ini terungkap dari pengembangan penanganan perkara sebelumnya yang mengarah pada dugaan keterlibatan oknum anggota Polri dalam jaringan narkotika.
“Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Bidpropam dan Ditresnarkoba Polda NTB, pada 3 Februari 2026 dilakukan tes urine terhadap yang bersangkutan. Hasilnya menunjukkan positif amphetamine dan methamphetamine,” kata Mohammad Kholid.
Dalam proses penyelidikan, penyidik juga mengamankan barang bukti narkotika jenis sabu dengan berat netto 488,496 gram yang berada dalam penguasaan tersangka. Berdasarkan dua alat bukti yang sah, perkara kemudian ditingkatkan ke tahap penyidikan dan tersangka langsung dilakukan penahanan.
Selain proses pidana, Polda NTB juga menindak tegas secara internal. Oknum perwira tersebut telah menjalani Sidang Kode Etik Profesi Kepolisian dan dijatuhi sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).
“Langkah ini menegaskan bahwa Polda NTB tidak memberikan toleransi terhadap pelanggaran hukum, termasuk yang dilakukan oleh personel internal. Tidak ada perlindungan terhadap pangkat, jabatan, maupun posisi struktural,” tegas Mohammad Kholid.
Kabid Humas Polda NTB juga memastikan proses hukum pidana terhadap tersangka terus berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Undang-Undang Narkotika dan KUHP yang berlaku.
Sementara itu, Ditresnarkoba Polda NTB masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan peredaran narkotika yang lebih luas, termasuk pihak-pihak yang diduga menyuplai barang haram tersebut.
Menurutnya, penanganan kasus ini juga menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan internal dan pembinaan integritas personel, sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemberantasan narkoba di wilayah Nusa Tenggara Barat.
“Komitmen kami jelas, melindungi masyarakat dari bahaya narkoba sekaligus menjaga marwah institusi melalui penegakan hukum yang profesional, transparan, dan berkeadilan,” tutup Mohammad Kholid.
Redaksi: Media Dinamika Global
Diplomasi Preventif: Peran Aktif Negara Dunia Ketiga dalam Mengelola Eskalasi Konflik Amerika Serikat-Iran Disusun oleh ibrahim M.M
Diplomasi Preventif: Peran Aktif Negara Dunia
Mediadinamikaglobal.id|Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran telah lama menjadi poros ketegangan geopolitik global. Namun, narasi dominan yang memusatkan perhatian pada dua aktor utama tersebut mengabaikan peran strategis negara-negara "Dunia Ketiga" atau Global South. Artikel opini berbasis kajian literatur ini berargumen bahwa negara-negara seperti Qatar, Oman, dan Turki telah memainkan peran krusial sebagai penghambat eskalasi, mediator diplomatik, dan penjaga stabilitas kawasan. Motif utama mereka bukanlah altruisme, tetapi kepentingan nasional pragmatis untuk melindungi stabilitas ekonomi dan keamanan domestik dari dampak dahsyat perang terbuka.
Dengan menggunakan pisau analisis teori manajemen konflik dan konsep soft balancing, serta menelaah studi kasus terkini, tulisan ini menyimpulkan bahwa diplomasi aktif Dunia Ketiga telah menjadi faktor penentu yang membatasi opsi militer, menjaga agar saluran komunikasi tetap hidup, dan mengelola risiko sistemik konflik AS-Iran. “Kami percaya bahwa hanya dialog yang dapat menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada. Perang akan menjadi bencana bagi seluruh kawasan” (Al Jazeera, 2026), sebuah pernyataan yang merefleksikan konsensus strategis di antara banyak negara yang terdampak.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada awal tahun 2026 mencapai titik yang mengkhawatirkan, digambarkan sebagai “Api di Timur Tengah dan Ancaman Perang Global” yang berpotensi mengganggu stabilitas energi dan pangan dunia (Anonim, 2026). Pengerahan kekuatan militer AS yang masif, termasuk ancaman serangan terbuka, diimbangi dengan peringatan keras dari Teheran bahwa konfrontasi akan “berlangsung sengit dan berlarut-larut” (Redaksi Kabarika, 2026). Dalam narasi yang dipenuhi retorika perang ini, suara dan kepentingan negara-negara lain di kawasan dan sekitarnya sering kali terdorong ke pinggir. Artikel ini membantah kerangka pasif tersebut. Klaim yang diajukan adalah bahwa negara-negara Dunia Ketiga, didorong oleh kepentingan nasional yang vital untuk menghindari bencana ekonomi dan keamanan, telah muncul sebagai aktor strategis independen yang secara aktif membentuk dinamika konflik melalui diplomasi preventif dan mediasi. Pertanyaan sentralnya adalah: Bagaimana dan mengapa negara-negara Dunia Ketiga terlibat dalam mengelola konflik AS-Iran, serta seberapa efektif intervensi mereka menurut kerangka teori hubungan internasional?
Memahami Agensi di Luar Kekuatan Besar
Untuk menganalisis peran Dunia Ketiga, kita perlu melampaui teori realisme klasik yang sering melihat negara kecil sebagai objek dalam permainan kekuatan besar. Dua kerangka teoretis utama dapat menjelaskan agensi mereka.
Pertama, Teori Manajemen Konflik dan Mediasi Pihak Ketiga. Manajemen konflik berbeda dengan resolusi konflik. Tujuannya bukan untuk menyelesaikan akar perseteruan, tetapi untuk mencegah eskalasi, mengurangi kekerasan, dan menjaga agar komunikasi tetap berjalan (Bercovitch, 1992). Dalam konteks ini, peran mediator menjadi krusial. Keberhasilan mediasi sering bergantung pada kredibilitas, netralitas yang dipersepsikan, dan akses mediator ke pihak-pihak yang bersengketa. Negara-negara Dunia Ketiga yang memiliki hubungan kerja dengan Washington dan Teheran seperti Qatar dan Oman sering kali memiliki keunggulan komparatif sebagai honest broker yang lebih dipercaya daripada kekuatan besar yang dianggap memiliki agenda hegemonik.
Kedua, Konsep Soft Balancing. Berbeda dengan hard balancing yang melibatkan pembentukan aliansi militer terbuka, soft balancing merujuk pada penggunaan alat-alat non-militer seperti diplomasi, pembentukan koalisi di forum multilateral, dan pembatasan kerjasama logistik untuk menaikkan biaya dan menghambat kebijakan agresif negara yang lebih kuat (Paul, 2005). Ketika negara-negara Teluk secara kolektif menolak untuk mendukung atau memfasilitasi serangan militer AS terhadap Iran, dan sebagai gantinya mendorong solusi diplomatik, tindakan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk soft balancing terhadap kebijakan unilateral Washington yang dianggap terlalu berisiko.
Kajian akademis sebelumnya telah membuka jalan untuk memahami kompleksitas ini. Jalalpoor dan Sharfi (2016) dalam analisis mereka tentang kebijakan Timur Tengah AS dan peran Iran menyoroti interaksi kompleks kekuatan eksternal dan regional. Sementara itu, Mustofa dan Syarifah (2021) mengkaji lebih lanjut dinamika politik ofensif-defensif dan perang proksi antara kedua negara. Kajian-kajian ini, bersama dengan catatan sejarah seperti yang dibahas Siti Arpah (2017) dan Agus N. Cahyo (2012), menegaskan bahwa konflik AS-Iran selalu terjadi di dalam jaringan kepentingan regional yang lebih luas, di mana negara-negara sekitarnya memiliki taruhan yang sangat tinggi.
Studi Kasus: Diplomasi Aktif dalam Praktik
Bukti empiris dari krisis terkini menunjukkan pola intervensi yang konsisten dan terkoordinasi dari negara-negara Dunia Ketiga, terutama yang secara geografis paling rentan.
Qatar dan Oman: Fasilitator Saluran Komunikasi Vital. Pada awal 2026, dilaporkan bahwa “negara-negara Teluk meningkatkan diplomasi untuk mencegah eskalasi AS-Iran” (Al Jazeera, 2026). Qatar dan Oman berada di garis depan upaya ini. Mereka memanfaatkan posisi unik mereka memiliki hubungan dengan AS sekaligus menjaga jalur dialog dengan Iran untuk menyampaikan pesan dan menyelenggarakan pertemuan tidak langsung. Seorang pejabat Qatar menegaskan, “Peran kami adalah mencoba meredakan ketegangan… dan mendorong semua pihak untuk memilih jalur diplomatik” (Al Jazeera, 2026). Upaya ini adalah bentuk konkret dari manajemen konflik: menjaga agar percakapan tetap berjalan ketika saluran resmi membeku. “Mereka berfungsi sebagai jembatan di saat kedua pihak enggan bertemu secara langsung,” tulis sebuah analisis (Redaksi Kabarika, 2026).
Turki: Mediator Ambisius dengan Kepentingan Langsung. Turki, di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan, juga aktif menawarkan jasa mediasi. Sebagai anggota NATO yang berbagi perbatasan dengan Iran dan memiliki kepentingan keamanan yang kompleks di Suriah dan Irak, Turki memiliki insentif kuat untuk mencegah konflik regional baru. Erdoğan secara terbuka menyatakan kesediaan menjadi penengah, menekankan bahwa “kepentingan semua pihak terlayani dengan perdamaian, bukan dengan perang” (dikutip dalam analisis Redaksi Kabarika, 2026). Meski upayanya sering kali diwarnai oleh ambisi politik regional Turki sendiri, keterlibatannya menunjukkan bagaimana negara Dunia Ketiga dengan kapasitas militer signifikan dapat memproyeksikan pengaruhnya melalui diplomasi.
Suara Kolektif dan Penolakan terhadap Perang. di balik layar, tekanan diplomatik juga mengalir. Laporan menunjukkan bahwa negara-negara Arab, khawatir akan dampak destabilisasi, secara aktif melobi AS untuk menahan diri. “Mereka tidak menginginkan konflik lain di wilayah mereka yang dapat mengacaukan pasar energi dan memicu ketidakstabilan lebih lanjut” (Redaksi Kabarika, 2026). Penolakan ini untuk memberikan dukungan politik atau logistik penuh bagi operasi militer AS adalah instrumen soft balancing yang efektif, karena meningkatkan biaya politik dan operasional bagi Washington untuk bertindak unilateral.
Pisau Analisis Teori: Motif, Mekanisme, dan Batasan Efektivitas
Menerapkan kerangka teori pada studi kasus mengungkap logika mendalam di balik agensi Dunia Ketiga.
Motif: Kepentingan Nasional yang Pragmatis dan Eksistensial. Dorongan utama negara-negara mediator adalah kepentingan nasional yang dingin dan terhitung. Perang terbuka di Teluk Persia akan menjadi bencana bagi ekonomi mereka yang bergantung pada stabilitas kawasan, perdagangan, dan investasi. Ancaman terhadap Selat Hormuz—“jalur vital bagi lebih dari seperlima pasokan minyak dunia”—saja sudah cukup untuk memicu krisis energi global (Anonim, 2026). Oleh karena itu, diplomasi pencegahan adalah bentuk tertinggi dari manajemen risiko nasional. Seperti diringkas oleh seorang analis, “Ini bukan tentang menyelamatkan Iran atau mendukung AS; ini tentang menyelamatkan perekonomian mereka sendiri dari kehancuran” (Redaksi Kabarika, 2026).
Mekanisme: Membangun Kepercayaan dan Menciptakan Jalan Keluar Diplomatik. Negara-negara seperti Qatar berhasil karena mereka telah berinvestasi dalam membangun modal sosial dan kepercayaan dengan berbagai pihak yang bertikai. Mereka tidak datang sebagai pihak asing, tetapi sebagai tetangga yang memahami kompleksitas lokal. Mekanisme kerjanya sering kali tidak terlihat: memfasilitasi pertukaran tahanan, menyelenggarakan pembicaraan teknis tentang keamanan maritim, atau sekadar memastikan bahwa ada saluran darurat jika krisis memuncak. Peran ini adalah esensi dari “preventive diplomacy”.
Efektivitas dan Batasan: Mengelola, Bukan Menyelesaikan. Penting untuk mengakui batasan pengaruh ini. Mediasi Dunia Ketiga paling efektif dalam ranah mencegah eskalasi dan mengelola krisis. Mereka adalah “peredam kejut” (shock absorber) sistem internasional. Namun, mereka jarang memiliki leverage untuk memaksa penyelesaian permanen atas isu-isu mendalam seperti program nuklir Iran atau kebijakan regional AS. Keberhasilan mereka sering kali diukur dengan apa yang tidak terjadi—tidak adanya serangan besar, tidak adanya penutupan Selat Hormuz yang merupakan pencapaian besar, meski tidak spektakuler. “Peran mereka adalah menjaga agar api tidak menjadi kebakaran hutan, meski bara konflik tetap membara,” sebuah analogi yang menggambarkan batasan manajemen konflik (Redaksi Kabarika, 2026).
Kesimpulan
Berdasarkan kajian teori dan bukti empiris, dapat disimpulkan bahwa klaim mengenai peran aktif dan strategis negara-negara Dunia Ketiga dalam dinamika konflik AS-Iran adalah valid dan semakin relevan. Negara-negara seperti Qatar, Oman, dan Turki telah membuktikan bahwa pengaruh dalam hubungan internasional tidak lagi dimonopoli oleh kekuatan militer atau ekonomi terbesar. Melalui diplomasi mediasi dan soft balancing, mereka telah menjalankan fungsi penting sebagai penjaga stabilitas regional dan fasilitator dialog.
Peran ini didorong oleh kepentingan nasional yang mendalam untuk menghindari malapetaka ekonomi dan keamanan yang akan ditimbulkan oleh perang. Mereka beroperasi paling efektif sebagai manajer krisis dan penghambat eskalasi, meskipun pengaruhnya terhadap resolusi konflik jangka panjang tetap terbatas. Dalam sistem internasional yang semakin multipolar, di mana ketegangan antara kekuatan besar memiliki dampak global, agensi dan strategi negara-negara Dunia Ketiga dalam mengelola krisis seperti AS-Iran tidak boleh lagi diabaikan. “Masa depan perdamaian di kawasan tidak hanya bergantung pada Washington dan Teheran, tetapi juga pada kehendak dan kemampuan diplomatik ibu kota-ibu kota lain yang memiliki terlalu banyak hal untuk dipertaruhkan” (Al Jazeera, 2026). Mengakui dan mendukung peran konstruktif ini adalah langkah penting menuju tata kelola keamanan global yang lebih inklusif dan stabil.
Lik////
Jelang Ramadhan, PPNI DPK Puskesmas Sape dan PMI akan Gelar Donor Darah Massal Peringati HUT ke-52 PPNI
Sape, Bima, NTB — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ke-52 tahun 2026 sekaligus mempersiapkan ketersediaan stok darah menjelang bulan suci Ramadan, PPNI DPK Puskesmas Sape bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Sape akan menggelar kegiatan donor darah massal.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026, mulai pukul 08.30 WITA hingga selesai, dan akan dipusatkan di Kantor Camat Sape.
Pelaksanaan donor darah massal ini diprakarsai oleh Dewan Pengurus Komisariat (DPK) PPNI Puskesmas dan DPK PPNI Puskesmas Sape bersama PMI Kecamatan Sape. Selain donor darah, panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan golongan darah secara gratis bagi masyarakat yang hadir.
Untuk menjamin keamanan dan kelancaran kegiatan, panitia akan melibatkan petugas serta tenaga medis dari Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD Bima sesuai dengan standar pelayanan kesehatan yang berlaku.
Panitia menetapkan sejumlah persyaratan bagi calon pendonor, antara lain berusia minimal 17 tahun, memiliki berat badan proporsional, sehat jasmani dan rohani, serta tidak sedang mengonsumsi obat-obatan terlarang. Melalui kegiatan ini, panitia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif, karena setiap tetes darah yang didonorkan menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan dan berjuang untuk hidup.
(Team.MDG.03)
Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota Dipecat, Nyaris Edarkan Sabu 488 Gram di Pulau Sumbawa
Mataram. Media Dinamika Global.Id.- Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota, AKP Malaungi menjadi tersangka dugaan peredaran narkoba. Dit Resnarkoba Polda NTB mengamankan sabu-sabu seberat netto 488,496 gram. Barang haram itu akan diedarkan di Pulau Sumbawa.Seperti di Kutip dari Media NTBSatu
Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Mohammad Kholid mengatakan, pengusutan kasus ini berangkat dari penangkapan anggota Polres Bima Kota Bripka Karol dan istrinya.
“Selanjutnya tim Dit Resnarkoba dan Bid Propam Polda NTB bergerak ke Polres Bima Kota untuk melakukan pemeriksaan,” katanya saat konferensi pers Senin, 9 Februari 2026.
Setelah melakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan, Polda NTB menetapkan AKP Malaungi sebagai tersangka. Polisi mengamankan sabu-sabu 488,496 gram di rumah dinas Kasat Resnarkoba Polres Bima Kota.
Polisi menjeratnya dengan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Barang haram itu didapatkan dari bandar inisial KI. Rencananya akan diedarkan di Pulau Sumbawa. “Yang bersangkutan sudah kami tahan,” jelas Kholid.
Selain mengantongi barang bukti, kepolisian juga telah melakukan tes urine. Hasilnya, Malaungi positif amphetamine (ekstasi/MDMA) dan methamphetamine (sabu).
Lebih lanjut, Kabid Humas mengatakan, oknum kepolisian itu juga telah menjalani sidang Kode Etik Profesi Kepolisian dengan putusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). (*)
TGC Puskesmas Sape Buka Posko Pengobatan Pasca Banjir di Desa Poja
Poja, Sape.Bima.NTB.Media Dinamika Global.id — Tim Gerak Cepat (TGC) Puskesmas Sape membuka Posko Pelayanan Pengobatan Pasca Bencana Banjir di Desa Poja, Kecamatan Sape, Senin (9/2/2026). Posko tersebut dibuka sebagai bentuk respons cepat terhadap dampak banjir yang melanda wilayah tersebut.
Melalui posko ini, TGC Puskesmas Sape memberikan berbagai layanan kesehatan kepada warga terdampak, mulai dari pemeriksaan kesehatan umum, pengobatan keluhan yang muncul pasca banjir, hingga edukasi kesehatan. Edukasi tersebut bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit akibat kondisi lingkungan yang kurang sehat setelah bencana.
Petugas kesehatan juga melakukan pemantauan kondisi warga guna memastikan tidak terjadi peningkatan kasus penyakit yang kerap muncul pasca banjir, seperti infeksi kulit, diare, dan penyakit pernapasan.
Kehadiran posko pelayanan kesehatan ini disambut positif oleh masyarakat Desa Poja. Warga merasa terbantu dengan layanan yang diberikan, terutama di tengah upaya pemulihan pasca bencana.
Selama kegiatan berlangsung, pelayanan kesehatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. TGC Puskesmas Sape berharap kegiatan ini dapat membantu meringankan beban masyarakat serta mendukung pemulihan kesehatan warga secara menyeluruh.
(Team.MDG.03)
Minggu, 08 Februari 2026
Bupati dan Wakil Bupati Bima Beserta Seluruh Jajaran Prokompida Mengucapkan, Selamat Hari Pers Nasional 2026
Media Dinamika Global.id.// Pers yang merdeka, profesional, dan berintegritas merupakan pilar penting demokrasi serta mitra strategis dalam menjaga transparansi, menyuarakan kebenaran, dan mengawal kepentingan rakyat.
Bupati dan wakil Bupati Bima beserta seluruh jajaran prokompimda mengapresiasi dedikasi insan pers yang terus bekerja dengan tanggung jawab, keberanian, dan komitmen kebangsaan di tengah dinamika zaman. Semoga pers Indonesia senantiasa menjadi sumber informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.













